Permulaan

Akhir-akhir ini sedang berusaha komitmen untuk menjadi independent learner, salah satu cara yang saya gunakan adalah menonton video dari YouTube. Namun sayangnya, beberapa kali saya mengakhiri tontonan tersebut tanpa mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Saya sadar bahwa jika tujuan saya menonton video tersebut hanya bagi diri saya sendiri, rasanya mudah sekali menggampangkan. Bismillah, in syaa Allah saya akan menggunakan platform ini sebagai medium untuk membagi pesan maupun pelajaran yang saya dapatkan dari video yang saya tonton. Semoga cara ini berhasil, ya.

Salam

Advertisements

Protected:

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Aku mau cerita.. banyak hal terjadi yang kemudian akan mengubah persepsi kita, dari benci jadi suka ataupun sebaliknya.

Memasuki masa masa quarter life crisis, aku menyadari bahwa orang sebegitu cepatnya berubah. Mungkin orang yang kukenal dulu sudah berbeda prinsip sejak pertama aku mengenalnya atau ada beberapa orang yang akhirnya melepaskan identitas yang selama ini melekat pada dirinya. People changes. Thats true. Orang yang dulu nyambung ngobrol sama kita, sekarang jadi terasa kayak orang asing. Pun sama, mungkin dulu kita ngga nyangka bisa temenan deket sama ini orang.. tapi akhirnya malah deket juga. Merasa menyesal kenapa ngga mengenal dia dari dulu kalau ternyata sefrekuensi… hmmm menarik.

Perlu digaris bawahi bahwa memang setiap orang berubah, pun termasuk diri kita. Setiap orang datang dan pergi, entah.. kita ngga bisa menjamin akan selamanya berteman dekat dengan kawan kita sekarang kan?

Temen yang baik ngga akan meninggalkan. Ribuan kekurangan pada diri kita ngga akan membuatnya mundur berteman. Kenapa ya? Apa karena value sama yang kita pertahankan bersama? Entahlah. Cuma maksudku adalah ngga perlu mengkeep teman sampai segitunya. Kita akan dipertemukan lagi dengan orang orang dengan prinsip yang sama, frekuensi yang senada, meski bukan berawal dari teman dekat. Hm bukannya teman dekat juga berawal dari orang asing?

Sudah akhir bulan Mei. Saatnya menulis.

Mei kali ini jadi sangat istimewa buat saya karena beberapa alasan. Salah satu yang utama adalah bulan Ramadahan. 1 Ramadhan dimulai dari Senin pertama bulan Mei. Produktivitas saat itu masih bisa dikatakan cukup tinggi, saya sempat belajar bahasa Arab Al Quran di dua pekan pertama Ramadhan. Tidak hanya itu, sorenya masih sempat mengincar takjil kajian ust. Syatori di Darush Shalihat yang membahas tentang Isti’adzah. Menjelang maghrib, barulah berangkat ke MPR untuk berbuka puasa. Hehehe.

Sempat juga selama hampir seminggu dua hari setelah kelas bahasa Arab selesai, saya mengerjakan skripsi di perpustakaan. Hehehe.

Rasanya damai dan nyantai. Ternyata kejutan bulan Mei belum selesai sampai disini.

Kepulangan keluarga yang ditunda membuat saya mencari aktivitas lain sebelum mudik. Kebetulan ada lowongan untuk menjadi enumerator di salah satu penelitian dosen. Kerjanya di pekan terakhir Mei. Karena merasa gabut kalau hanya menunggu, akhirnya saya mendaftarkan diri menjadi salah satu enumerator.

Perjalanannya tidak mudah. Saya bingung harus menjelaskan bagaimana.. tapi yang jelas selama beberapa hari ke belakang ini saya merasa hari hari saya bertambah panjang. Satu hari saya bisa bolak balik ke kabupaten yang berbeda di Provinsi DIY. Hehhe. Capek sih, tapi menyenangkan.

Setiap di jalan pulang, saya pasti merenung dan memikirkan jawaban responden…. hmm sering jadi ikut bersimpati juga dengan keadaan mereka.

Ramadhan #1

Alhamdulillah masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini…

Sebuah kesempatan yang patut untuk disyukuri 🙂

Refleksi sebelum Ramadhan kemarin, saya sempat sakit selama kurang lebih seminggu. Setelah perjalanan jauh mondar mandir kesana kemari ditambah pulang malam dan minum kopi, saya tepar sodara sodara. Huhuhu. Awalnya meski pusing dan lemas, masih berusaha untuk menjalani hari seperti biasa.. Namun apadaya saya malah diminta tubuh untuk istirahat selama seminggu full di rumah. Hehehe.. keluar sedikit sudah oleng rasanya. Entah mual, lemas, atau batuk wkwkwk. Eh padahal biasanya saya paling susah tertular flu kalo di rumah. Ini malah jadi yg ambruk di garda terdepan..hehehe

Agak sedih sebenernya, pekan terakhir sebelum datangnya bulan Ramadhan saya berharap bisa melakukan simulasi Ramadhan.. tapi badan saya tidak kuat. Hehehe.. terpaksa mengistirahatkan diri dulu demi sehat di bulan Ramadhan. Obat saya bertambah 4 jenis selama sepekan terakhir. Saya biasanya paling anti minum obat sebelum parah. Berhubung karena kasusnya urgen, saya harus segera sehat.. terpaksa menelan obat obat itu hihihiw.

Merasakan dimana sepekan punya waktu luang banyaaak banget, yang biasanya hanya diisi tidur tidur, tapi ngga bisa melakukan hal lain yang lebih produktif (semisal mengerjakan skripsi). Hehe tak apa.. sebagai penghiburan, saya berpikir bahwa sakit ini sebagai penggugur dosa sebelum Ramadhan datang. Cara Allah menegur saya agar banyak bermuhasabah sebelum bulan Ramadhan datang. Hehhe alhamdulillah…

Satu hal yang saya pesankan, kenikmatan sehat dan waktu luang benar benar anugrah yang sangat besar. Tanpa sehat, hanya punya waktu luang, tetap tidak bisa produktif. Hehhe.. semoga kita mampu mengisi segala kesempatan berupa nikmat sehat dan waktu luang dengan sesuatu hal yang bermanfaat, ya! 🙂

Salam