MQMM 2

Mumpung masih anget, saya akan membagikan beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari 3 hari mengikuti Qur’an Camp. Salah satu yang utama adalah alhamdulillah saya sangat bersyukur dipertemukan dengan komunitas berQuran yang memiliki visi sama. Tujuan berQuran bukanlah untuk memiliki hafalan dalam jumlah tertentu saja. Quran adalah perkataan yang berat. Hanya dengan menghafal, mungkinkah kita bisa meneladani akhlak Rasulullah?

Dari mana kita bisa memulai mempelajari Al Quran? Tazkiyatun nafs, tema besar Quran Camp kedua ini.

Allah ga akan pernah capek untuk mengampuni dan memaafkan hambaNya, karena Allah punya sifat Ghofuur dan ‘Afuwwun. Kadang kitanya aja yang suka menyerah, merasa bahwa dosa kita sudah terlalu banyak, setiap kali habis minta maaf, maksiat lagi, gitu gitu terus. Padahal Allah ga akan bosen mendengar kata taubat dari kita sampe kitanya sendiri yang bosen.

Selama 3 hari, kami dikondisikan untuk selalu dekat dengan Quran. Selain ada target murojaah dan tilawah (bukan hafalan) juga ada diskusi dan tausyiah mengenai Al Quran. Al Quran seluar biasa itu.. apa apa yang bersanding dengan Al Quran akan menjadi mulia. Contoh, bulan Ramadhan dijadikan mulia karena waktu turunnya Al Quran. Oleh karena itu, dibuatlah suatu sistem pentahapan amal yang puncaknya adalah Ramadhan. Tahapan yang dimulai setapak demi setapak. Ada beberapa targetan amalan yang diikhtiarkan untuk dilakukan selama dua pekan, kemudia dua pekan berikutnya, dan seterusnya.. sampai kita siap untuk merayakan amal di bulan Ramadhan.

Kuncinya ada pada tazkiyatun nafs. Tazkiyatun nafs selain dengan membaca Al Quran, juga berlatih merasa hadir di dalam Al Quran. Merasa terpanggilah ketika ada kata “Yaa ayyuhal ladzi na amanu..”, rindulah ketika disebutkan nama orang orang shalih di Al Quran, marah lah ketika nama orang dzalim disebutkan (Fir’aun, Qarun), sedih lah ketika ada ayat yang menceritakan tentang hari kebangkitan, hari kiamat, siksa neraka.. dan berbahagialah ketika mendengar kata tentang surga dan kenikmatannya..

Tazkiyatun nafs itu akan berdampak pada adab adab halus yang tidak kasat mata, seperti merasa bahwa Allah selalu mengawasi hingga malu untuk menunda sholat, malu untuk baca Quran dalam kondisi yang tidak sempurna, dan lainnya.. Selain itu juga melatih kebesaran dan kesabaran hati kita. Sesederhana melihat postingan teman di media sosial, tidak lantas membuat kita meremehkan.. karena kesucian hati akan menjadi cermin dari perilaku hidupnya sehari-hari.

Simbolis, mengenakan dresscode hitam saat pembukaan dan dresscode putih saat penutupan. Games “mengotori” kain dan membuatnya bersih dengan byclean, keranjang berpasir, kupu-kupu hitam.. ah manusia, memang tak luput dari salah dan dosa. Tugas kita adalah selalu meminta maaf pada Allah, bertaubat atas kekhilafan yang sering kita perbuat baik sadar maupun tidak sadar. Allah akan selalu membukakan pintu ampunan bagi hambaNya. Betapapun sulitnya dan merasa hinanya kita di hadapan Allah, jangan pernah berputus asa dari rahmatNya

1/30

Alhamdulillah keadaan semakin membaik. Menerapkan prinsip bahwa sekelebat niat baik datang, langsung kerjakan saat itu juga. Itu kesempatan yang ngga bisa ditawar. Sekalinya lewat, susah banget untuk dilakukan. Baca Quran, wudhu, sholat witir, al matsurat. Alhamdulillah.. Allah mampukan. Memang benar, kalau Allah mengizinkan kita beribadah aja itu udah suatu kenikmatan yang sangat besar.
Besar banget
Ngerasain gimana sih nikmatnya sholat, nikmatnya paham baca Quran (meski hanya seujung kuku semut). Allah mampukan, Allah berikan hikmah. Kembali lagi, Al Quran mengubah orientasi kita dari yang tadinya cemas sama dunia, mungkin, jadi lebih berorientasi ke akhirat. Bahkan Allah ga menjanjikan dunia buat orang beriman. Kalau dunia yang kita prioritaskan, itu harganya ngga lebih mahal dari sebelah sayap nyamuk:” Allah Rabbi……. mampukan hati dan diri kami untuk senantiasa beribadah kepadaMu……

Lompatan

Kemarin setelah bertemu dengan banyak orang yang masih di Jogja, aku merasa memiliki energi untuk bisa punchback, istilahnya ya untuk melakukan hal penting yang bisa aku lakukan, semisal skripsi.

Skripsi ini meski prsosesnya tinggal sedikit, aku merasa perlu take a break barang sejenak (yang aslinya sampe berhari-hari hanya dihabiskan dengan gegoleran di kasur). Aku mulai menghadapi kenyataan bahwa segala yang indah itu harus kita perjuangkan, impian, cita-cita, pencapaian.

Energi itu ada di detik-detik terakhir, pikirkan greater goal dan orang-orang terdekat yang bahagia mendengar kabar kelulusanmu. Semangat ya, aku tahu semuanya belumu berakhir. Kamu masih bisa melakukan pukulan balik sebagai tanda perlawanan terhadap nasib! Tak ada kata terlambat jika kamu memulai sekarang. Teriring doa untuk teman teman seperjuangan, semoga sukses mendulang asa masing-masing! 🙂

Journal It!

Aplikasi diari kesayanganku, Journal It!, ngga bisa dibuka dalam waktu beberapa saat ini. Argh, itu agak membuatku frustasi mengingat banyaknya tulisan yang sudah aku buat disana. Gimana kalau hilang? Huhu. Yasudah, mungkin memang takdirnya aku mencoba aplikasi lain, dengan konsekuensi segala apa yang pernah aku tuliskan sejak zaman aku punya smartphone hilang (sedih). Tapi siapa tahu ini adalah permulaan buat hal yang lebih baik *mencoba berpikir positif*

Berbicara mengenai berpikir positif aku jadi ingat sesuatu refleksi. Sejatinya setiap kejadian dalam kehidupan kita pasti punya dua sisi, positif dan negatif. Pemilihan perspektif kita akan punya peran suatu kejadian itu baik atau buruk. Kalau kita merasa itu baik maka kita akan bersyukur tapi kalau kita berpikir bahwa itu adalah kejadian yang buruk, maka kita akan mengutuk. Tidak ada benar dan salah. Serius, semua ini hanya tergantung dari kita. Kalau memang hati kita bening dan kepala kita jernih pasti kita bisa melihat suatu hal positif dari setiap kejadian. Kalaupun jawabannya belum ada sekarang, berprasangka baik saja lah sama Allah. Allah nggak akan menyia-yiakan kepercayaan hambaNya.

Justru terkadang memang kita yang terlalu cepat untuk menghakimi bahwa apa yang terjadi itu buruk. Padahal sebenarnya kita tidak tahu apakah yang kita anggap baik itu benar baik untuk kita atau yang kita benci benar buruk untuk kita.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al Baqarah: 216)

31 Oktober

Aku takut…..

Aku merasa tidak tenang. Banyak hal yang seharusnya mulai aku pikirkan tapi aku belum siap. Gelisah dan kekhawatiran akan sesuatu yang belum terjadi terus terbayang di kepala. Bahkan pada saat itu, aku tidak mampu untuk mendeskripsikan secara pasti apa yang membuatku takut.

Apakah aku berbuat dosa jika melakukan hal seperti ini?

Pikiranku terus bertambah keruh… aku tidak memiliki siapa-siapa yang bisa aku ceritakan mengenai kegelisahanku. Semua ini ada, aku bisa merasakannya, tapi tak mampu aku ungkapkan. Sampai entah pasal apa, aku memberanikan diri untuk menelpon seseorang.

‘Lu kenapa nelpon gua dah?’

‘Aku juga ngga ngerti, tapi aku butuh jawaban.’

Dari dirinya lah aku merasa mendapat jawaban.

Bertukar kisah, berbagi nasihat.

Nggak semua hal bisa lu dapetin jawabannya sekarang, Fa. Ada hal-hal yang cuma bisa lu simpen sekarang dan lu bakal tau jawabannya suatu saat nanti. Gua ngeliatnya lu terlalu takut sih. Sedih boleh, tapi jangan berlebihan.. masih ada harapan.

Klise, tapi entah kenapa memang nasihat seperti itu yang butuh aku dengar.

‘Gua cuma ngga siap aja…’

Lu udah dewasa sih, Fa. Semua orang ngalamin.. kalo emang belum siap, ya nggak papa, terima aja. Jalanin aja. Kurangi intensitas yang nggak perlu. Santai aja, kadang hidup ini emang cuma buat dijalani. Dunia ini bukan tempat kita, Fa.

Sebuah nasihat yang secara teori sudah pernah aku tahu, tapi gagal aku pahami maksudnya dalam situasi seperti ini. Meski tidak begitu paham, aku merasa semua nasihatnya masuk akal. Ya nggak semua jawaban harus kita dapat saat ini juga, bukan? Jalani aja, nanti juga ketemu

28 Oktober

Sepertinya kota ini baru saja diguyur air hujan.. gumamku ketika melihat jalanan yang basah. Alhamdulillah, untuk pertama kalinya setelah berbulan merasa jalanan Jogja kering dari air hujan, kini hujan baru saja turun. Bau petrikor menguar dari jalanan yang aku lalui selepas kajian di Bantul. Alhamdulillah, ngga kena air hujan..

Selepas hujan itu, entah mengapa suasana menjadi damai, seperti ada suatu ketenangan yang hadir di dalam hati. Semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak, sehingga besok pagi bugar untuk melanjutkan menulis skripsi, harapku sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok. Sore ini, dosen pembimbing skripsiku memintaku untuk menyerahkan file skripsi yang sebenarnya belum rampung aku sempurnakan. In syaa Allah kami akan bertemu besok.

29 Oktober

Berbekal skripsi yang masih harus disempurnakan, aku memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Tersebab akhir akhir ini merasa enggan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Sepertinya aku lelah, huft.. Berbekal beberapa nasihat dari kawan terdekat, khususnya kawan sebimbinganku yang sudah lulus lebih dulu, aku meyakinkan diri bahwa hari ini akan baik-baik saja. ‘Ayo, lawan rasa malas dan takutmu untuk hari yang lebih baik, Fa!’ bisikku menyemangati.

Sesampainya di kampus, aku diminta untuk menjadi subjek penelitian eksperimen. Tak apalah, mari kita coba meringankan beban orang lain yang juga sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya.

Alhamdulillah kemudahan itu ternyata datang kepadaku. Selepas menjadi subjek eksperimen, seorang temanku tiba-tiba datang dan menemaniku menyelesaikan revisi skripsiku di perpustakaan fakultas. Tak berapa lama, ada pesan masuk dari teman yang sedang berada di ibukota, ‘semangat buat skripsinya ya, Fa. Semoga lancar’. Tak berhenti sampai disitu, menjelang adzan dzuhur, seorang teman yang lain ternyata membawakan salad buah sebagai bentuk menyemangatiku yang akan segera bertemu dosen pembimbing. Sangat terharu dengan kemudahan yang tiba-tiba datang bertubi-tubi serta ketenangan yang Allah hadirkan tepat saat aku menunggu di depan pintu dosen.

‘Silakan masuk.’ ujar beliau. Setelah konsultasi selama 30 menit, skripsiku rampung diberi umpan balik. ‘Kalau sudah selesai direvisi, nanti letakkan di depan ruangan saya saja ya. Biar saya lebih mudah memeriksanya di kala senggang.’ Alhamdulillah, proses bimbinganku selesai hari itu juga tanpa kendala berarti.