Merajuk

Sepekan ke belakang, sepertinya Ifa sedang benar-benar butuh untuk diperhatikan orang lain. Mulai dari nangis habis maghriban sampai mata bengkak, keluhan sakit punggung sampai harus izin pulang duluan kajian CIOS, patah hati, masalah sama kelompok, masalah pertemanan, hingga puncaknya adalah sakit yang mengharuskan istirahat selama 3 hari. Alhamdulillah, setelah 1/3 perjalanan PKU, ditandai dengan diskusi tematik terakhir dan evaluasi mentor, Allah kirimkan orang-orang baik untuk membersamai kelanjutan perjuangan. Mulai dari banyaknya nasihat yang diberikan, mendengarkan cerita untuk berbagi beban, dipijitin pas sakit, dikerokin, dikasih kehangatan dengan bertumpuk selimut dan jaket, keikhlasan temen-temen yang rela selimut dan kamarnya bau minyak angin, rela buat ngalah ngga nyalain kipas padahal gerah, ngambilin makan, nanyain kabar, buatin minum anget, nyariin obat tengah malem, beliin UC1000 di PKU Mart tengah malem, bawain sahur, direbusin air panas buat mandi, nanyain sukanya makan apa, dll yang ngga bisa disebutkan deh kebaikannya apa aja. Ditambah lagi, hadirnya org org terdekat yg tiba tiba ngechat dan kami berakhir telponan dengan durasi rata-rata satu jam di setiap orang. Dinasehatin panjang lebar sampai perasaanku teraduk-aduk -tapi ya lega sih habis itu-. Ga jarang juga, di antaranya pasti aku yg nangis berurai air mata. Wkwwk. Kalo dipikir pikir, itu ternyata nikmat juga ya? Selama ini aku hanya taken for granted aja gitu. Jazaakumullah khayran katsir. Allah Maha Baik.

ini yang dinamakan hidup

menarik sebenernya kalau mengamati perjalanan hidup seseorang. Bulan Oktober tahun lalu, aku masih berupaya untuk melawan diriku sendiri saat mengerjakan skripsi. Di saat yang sama, temenku ada yang mempersiapkan diri menempuh perjalanan baru setelah wisuda. Rasanya lucu kalau menoleh ke belakang, “dulu aku pernah ya setakut itu” wkwk. Skripsi yang rasanya mustahil aku selesaikan, ternyata aku bisa lulus juga.. alhamduliilah. semuanya emang terlihat mustahil sampai kita sampai di ujung, iya ngga sih? Perjalanan skripsi, buatku, selalu menarik sih.. banyak hal yang terjadi hingga aku merasa perlu untuk mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari proses penskripsian. Maka percayalah Fa, sesuatu yang berat dijalani insyaa Allah banyak pelajarannya juga. Hihiw, jangan takur! Siapkan mental aja sekuat-kuatnya dan hati yang sesabar-sabarnya. Kalau kurang, berdoa aja sebanyak-banyaknya. Minta sama Allah untuk selalu dikuatkan berjalan di atas jalan-Nya yang lurus ❤

mengumpulkan mutiara

“Segala apa yang kamu dengar, lihat, dan rasakan semuanya itu adalah pendidikan”

Baru tadi malam, mentor kami kembali menegaskan bahwa dengan menempuh pendidikan di sini berarti siap belajar 24 jam. Dan benar saja, aku membuktikan ucapannya. Mulai dari jam olahraga setiap pekan, nilai-nilai pondok yang diceritakan mentorah, gimana setiap kakak kelas memiliki tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya, masalah pertemanan, akhlak, hingga bagaimana mencari jodoh.

Dari kesemua input yang ada, aku hanya bisa berharap bahwa hati ini senantiasa bisa menangkap makna dari setiap kejadian. Sehingga ku bisa belajar terus. Hidayah yang terus datang itu semoga ga jadi sia sia hanya karena aku lupa atau ngga memaknai itu sebagai sesuatu yg patut untuk disyukuri.

Intinya, terlepas dari beragam intrik dan drama yang kadang bikin malas (Gapapa, anggap aja itu bumbu kehidupan biar makin sedap), ya aku semestinya banyak bersyukur karena udah dikasih kesempatan untuk menuntut ilmu disini. Di mana kalo kata ustadz Wildan, ya emang udah orang orang terpilih aja yang akhirnya punya privilese untuk dapet lingkungan seperti ini.

diukur pakai hati

saat di awal belajar pemikiran, aku berpikir harus melakukan akselarisasi. Baca banyak buku, diskusi, mumet mumet lah mikirin si tokoh sama teori dari A sampai Z. Tapi ngga jarang juga aku merasa kering dari nilai-nilai ruhani. Bukan karena ngga diajarkan, tapi karena tidak terlalu fokus membahas hati -alhamdulillah sekarang udah mulai sih kajian turatsnya- jadi sering merasa bingung… ini benar ngga sih dll. semakin kesini, belajar untuk memperbaiki adab dan coba untuk menilai sesuatu dari hati. kalo ada suatu kejadian, terus rasanya ngga enak… ya berarti ada yang salah. pun sebaliknya, kalau enak enak aja yaudah watados aja meski berbeda pilihan dengan yg lain

menjadi orang tua

bismillah, satu hal yang aku sadari bahwa pengasuhan ideal tidak bisa diterapkan ke semua orang tua. Lah kok bisa? Ya, bisa aja kalo orang tuanya emang nggak mau. Ada gitu orang tua yang nggak mau ngasih yang terbaik buat anaknya? Hmmm, jadi begini.. membentuk sebuah keluarga itu butuh visi. Kalau misalnya tujuan menikah adalah untuk punya anak dan melanjutkan keturunan, ya ngga papa.. in syaa Allah itu yang akan dicapai nantinya. Terus, emang itu salah? Ya nggak salah, tapi yang kita tahu ya bahwa visi setiap pasangan berbeda-beda. Visi tentang membentuk keluarga ideal itu berbeda-beda, jadi ya ngga bisa satu model akhirnya dipaksakan dilakukan oleh keluarga yang lain kecuali kalau keluarga itu memang memiliki visi yang sama. Hmmm gitu ya, terus gimana? Terus yang namanya punya visi untuk membuat keluarga ideal itu ngga mudah lho, dimana orang tua juga harus jadi role model terbaik buat anak-anaknya. Selama ini yang namanya anak pasti belajar dari lingkungan sekitarnya ya, utamanya dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.. ya tidak lain dari perilaku orang-orang di sekitarnya atau dari media yang mereka konsumsi, seperti televisi, youtube, dan sebagainya. Perubahan pertama emang harus dari orang tuanya duluu, orang tuanya harus sadar dulu jugaa. Terus kalo ngga sadar juga gimana? Yaa kembali lagi setiap orang tua punya tujuan keluarganya masing-masing. kalau pengen membuat mereka sadar bahwa ada tujuan yang lebih besar untuk dicapai dari pembentukan keluarga, bisa bikin edukasi yang menekankan bahwa anak adalah investasi. Ada yang lain nggak ya?

Ramadhan 10

Kata siapa ini cuma kamu aja yang merasakan?

Aku berpikir ulang.. memang rencanaku untuk kembali ke Jogja saat Ramadhan sepertinya harus pupus. Kali ini aku berkesempatan untuk menghabiskan Ramadhan di kampung halaman, jauh dari keluarga. Awalnya kupikir ini akan berjalan seperti biasa. Namun dengan lingkungan dan orang yang baru, sepertinya kemampuan adaptasiku harus lebih cepat dibandingkan waktu berlalunya Ramadhan.

Kupikir hanya aku yang merasakan sulitnya beribadah secara optimal di masa pandemi ini. Nyatanya, orang lain pun sama. Yang membedakan, satu hanya mengutuk dan menyerah akan usahanya yang dirasa belum optimal.. satu lagi terus berusaha memberikan usahanya yang terbaik, meski ia tahu capaian amalannya saat ini mungkin terbilang kurang dibanding Ramadhan yang biasanya…… terus dicoba aja. Ini berat untuk kita semua. Kamu mau termasuk ke dalam orang yang mana Fa?

Ramadhan 07

Ramadhan sudah sepekan.. jujur berat rasanya mengoptimalkan Ramadhan kalo ngga di Jogja T.T wkwk. Setiap teman teman yang sudah merasakan Ramadhan di Jogja pasti bisa merasakan vibe Ramadhan yang begitu meriah.. rasanya malu kalau ngga beribadah atau ngga ikut kajian padahal jalan menuju kesana udah banyak dimudahkan. Huhuhu. Jujur sedih wk tapi aku ingat perkataan Ustadz Nurul Dzikri bahwa ini masih Ramadhan yang sama.. dimana Allah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga selebar-lebarnya. Ini masih Ramadhan yang sama dimana segala kebaikan dan amalan dilipatgandakan pahalanya :”””)

Rencanaku setelah pulang kampung sepekan dua pekan. Langsung kembali ke Jogja untuk menikmati Ramadhan (yang mungkin terakhir?) sebagai mahasiswa di Kota Pelajar. Nyatanya keadaan tidak sesuai dengan angan. Untuk beberapa waktu aku terjebak di kampung halaman, tak bisa ke Jogja dan tentu tak bisa pulang ke Depok. Huhuhu. Tapi tunggu, mungkin ini jugakah Ramadhan terindah dalam hidupku selama ini? Meski suasananya jauh dari kata ideal, meski berat menjalani sendirian… rasanya ya tetap saja ini Ramadhan yang seperti biasanya :”))

diri sendiri

Kalau ada yang bertanya, memangnya butuh waktu berapa lama untuk mengenal diri sendiri? Jujur, aku pun tak tahu apa jawabnya. Bagi seseorang yang sudah mengaku kenal dengan dirinya sendiri, benarkah demikian? Perjalanan mengenal diri menurutku adalah perjalanan panjang yang mungkin butuh waktu seumur hidup. Perjalanan diri menurutku juga adalah perjalanan untuk mencari setiap hikmah yang terserak dari tiap kejadian hidup kita yang sudah kita lalui.

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

assessment

tadi malam, saya berkesempatan untuk mencoba salah satu asesmen yang ditawarkan oleh suatu biro psikologi. Rekomendasi saya dapatkan dari beberapa teman yang sudah lebih dulu mencobanya. Hem, sejujurnya saya cukup kaget dengan hasil yang muncul. Ehehe saya merasa bahwa itu bukan diri saya. Meski di beberapa bagian penjelasannya, saya merasa memiliki karakteristik kepribadian seperti itu. Hahahah. Tapi ya anehnya adalah saya penasaran mengapa bisa muncul tipe kepribadian seperti ini di hasil asesmen saya. Rupanya saya bisa mendapat laporan versi lengkap beserta sesi konsultasi dengan biaya Rp100.000,-. Tanpa ada ekspektasi apapun, saya akhirnya membuat janji dengan konselornya.

Hmm, apa yang ingin saya ceritakan disini ya? Hahaha. Sebenarnya bulan ini saya juga mencoba asesmen kepribadian milik kakak tingkat saya di psikologi. Kedua hasil asesmen tersebut tentu tidak bisa dibandingkan secara langsung karena alat ukurnya melihat hal yang berbeda. Namun yang menarik, saya bisa melihat seberapa peran konselor dalam mengarahkan hasil asesmen seseorang… sangat besar. Konselor disini adalah orang yang berhak untuk menjelaskan secara deskriptif mengenai hasil yang sudah kita dapatkan dari proses asesmen tersebut. Hmm… kemudian, saya lebih mengenal diri saya sendiri sih. ternyata saya bisa menjadi orang yang seperti apa aja (?) loh apa maksudnya? wkkw. kepribadian orang itu sangat kompleks. Ya meski memiliki beberapa kecenderungan dasar, pasti ada karakteristik yang akan berubah jika dihadapkan oleh situasi yang menuntut dia untuk bisa beradaptasi. ehehe, menakjubkan. jadi jangan pernah takut sama kelemahan diri sendiri. manusia punya dua sisi, kelemahan dan kelebihan. orang yang terlihat punya segudang kelebihan, pasti punya kekurangan. pun sebaliknya, manusiawi lah yang namanya punya kekurangan, tapi kita bisa memilih untuk melihat lebih dalam ke potensi dan kekuatan yang kita punya. Gimana kemudian bisa kita kembangkan untuk kebermanfaatan bagi banyak orang. Ehehe~ yaudah, semangat atuh.